Tinggalkan yang Meragukan

1 Agustus 2013 at 08:58 Tinggalkan komentar

Tinggalkan yang Meragukan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Dari Abu Huroiroh berkata : Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu dia kesulitan menetukan apakah sudah keluar sesuatu (kentut) ataukah belum, maka jangan membatalkan sholatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.”

(HR. Muslim : 541)

            Bukan hal yang mustahil bagi seorang muslim yang telah berwudhu, kemudian hendak shalat, ataupun yang sedang shalat akan merasakan sesuatu pada perutnya, bisa jadi karena perut yang terlalu kenyang, ataupun sebaliknya yang terlalu lapar. Iapun seakan merasakan ada sesuatu (angin) yang keluar melalui duburnya, ia ragu apakah benar-benar keluar atau tidak. Dalam keadaan seperti ini,

rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan solusinya, yaitu hendaknya ia tetap yakin bahwa wudhunya belum batal sampai ia mendengar suara atau mencium bau.

1- Motivasi bagi kaum muslimin untuk senantiasa teguh dalam agama Islam yang mulia

Agama Islam adalah agama yang universal, mencakup segala segi kehidupan, dari hal yang terkecil hingga yang terbesar. Bukti nyata, fakta dan realitanya sampai-sampai masalah -buang angin-pun ada penjelasannya dalam agama yang mulia ini, dan pada pembahasan ini berkaitan dengan batal atau tidaknya shalat. Hal ini menunjukkan betapa sempurna dan lengkapnya syariat Islam. Kesempurnaan tersebutlah yang memotivasi seluruh kaum muslimin untuk teguh di atas Islam sampai kematian datang menghampiri.

Insya Allah kaum musliminpun akan semakin teguh di atas cahaya iman dan Islam ketika menengok kebobrokan dan  ketidak sempurnaan syariat selain islam. Kristen misalnya, coba kita lihat, injil yang ada pada mereka bagaikan UUD’45 yang tak lepas dari amandemen. Sungguh jauh berbeda dengan Islam yang sempurna. Keyakinan tentang kesempurnaan Islam ini harus kita tanamkan pada diri-diri kita, keluarga kita dan seluruh kaum muslimin, karena setan dan bala tentaranya akan terus berusaha mengelincirkan kaum muslimin dari agama yang haq. Beberapa waktu yang penulis pernah mendengar perkataan yang sangat memilukan dan menyayat hati, yang keluar dari lisan Abdul Muqsid Ghazali, seorang aktivis JIL (Jaringan Iblis La’nat) ketika bedialog dengan da’i, Ust. Hartono Ahmad Jaiz hafizhahullah, Abdul Muqsid Ghazali berkata (menukilkan perkataan seorang sufi): “Sesungguhnya Syariat (yang dibawa) Muhammad adalah kurang (tidak sempurna).” Sungguh ini adalah perkataan yang kufur, padahal telah jelas dan gamblang bahwa Allah ‘azza wajalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku.” (QS.al-Maidah:3).

Sebagai bukti yang realita, ketika penulis sedang dalam perjalanan menuntut ilmu agama, penulispun mendengar ada seorang muslimah (yang tinggal sekitar 0,5 km dari rumah keluarga penulis di kampong halaman) murtad, keluar dari Islam. Tentu banyak hal yang melatarbelakangi hal tersebut, namun keyakinan yang lemah tentang kesempurnaan Islam dan lemahnya iman serta lemahnya pengetahuan tentang Islam bisa jadi menjadi penyebab utamanya. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian.

2- Sesuatu yang telah yakin (tidak diragukan) tidak dapat hilang dengan keraguan

اليَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِّ

         Ini adalah kaidah fiqih yang sangat penting, jika seorang muslim telah memahaminya dengan baik maka ia akan mendapati kemudahan dalam menghadapi berbagai macam permasalahan. Adapun maksud dari kaidah ini adalah bahwasannya segala sesuatu yang telah yakin adanya, maka tidak dapat hilang karena suatu keraguan, ataupun sebaliknya segala sesuatu yang telah diyakini ketiadaannya maka tidak bisa dianggap ada hanya dengan keraguan atau tanpa dalil yang jelas. Kaidah ini akan semakin dapat kita fahami dengan baik dengan contoh-contoh sebagai berikut:

  • Apabila sesorang berwudhu, setelah beberapa saat kemudian ia ragu apakah telah batal wudhunya atau belum, maka sejatinya wudhunya belum batal, karena ia yakin telah berwudhu, namun batal atau tidaknya ia ragu, maka keraguan tersebut tidak dapat membatalkan wudhunya.
  • Apabila seseorang yakin bahwa ia berhadats (kecil/besar), beberapa saat kemudian ia ragu apaka ia telah bersuci atau belum, dalam keadaan seperti itu maka sejatinya ia belum bersuci.
  • Apabila seseorang berjalan melewati suatu perumahan, kemudian jatuhlah air dari lantai dua salah satu rumah dan membasahi bajunya, ia tidak tahu apakah air tersebut najis atau bukan, maka secara asal air tersebut bukanlah najis, kecuali ia mendaoati tanda-tanda yang jelas, misalnya dari baunya.
  • Apabila seseorang ragu dalam shalatnya, ia telah shalat 4 rakaat atau 3 rakaat, maka hendaknya ia mimilih bahwasannya ia telah shalat 3 rakaat karena itulah yang tidak diragukan,  kemudian melanjutkan ke rakaat yang ke-4 dan sujud sahwi.

3- Jangan termakan was-was setan

Setan akan terus berusaha menggelincirkan anak keturunan Adam ‘alaihissalam dari jalan kebenaran, hingga hari kiamat kelak, karena demikianlah janji iblis la’natullah ‘alaih. Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman mengisahkan perkataan iblis:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (QS.al-A’raf:16)

Imam Mujahid seorang ulama tafsir dari genarsi setelah sahabat (tabi’in) mengatakan  الْمُسْتَقِيمَ berarti الحَقُّ  yaitu “kebenaran”.

Salah satu usaha setan  dari janjinya tersebut adalah ia menebarkan was-was kepada hamba-hamba yang beriman dalam beribadah kepada Allah. Maka hendaknya kita berlindung kepada Allah dari was-was setan dalan setiap keadaan. Allah ‘azza wajalla berfirman:

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Artinya:

1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

2. Raja manusia.

3. Sembahan manusia.

4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

6. dari (golongan) jin dan manusia.

Demikian semoga bermanfaat Allahu ta’ala a’lam.

Lampung Utara, 24 Juli 2013

Muhammad Irsan

http://www.irsanshome.wordpress.com

Referensi:

Jami’ul Bayan ‘An Ta’wili Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thobari

al-Mantsur, Muhammad az-Zarkasyi

al-Muhadzdzab Fi Fiqhil Imam asy-Syafi’i, Ibrahim bin Ali asy-Syairazi

al-Qawaid wal Ushul al-Jamia’ah, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di

Iklan

Entry filed under: Al-Islam, Aqidah, Fiqih, Hadits.

KEUTAMAAN SHADAQAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agustus 2013
S S R K J S M
« Jul    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Tulisan Terakhir

Arsipku

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Statistik Pengunjung

  • 1,744 Pengunjung

%d blogger menyukai ini: