MERAIH BEKAL MENUJU KEHIDUPAN YANG KEKAL

17 Mei 2012 at 09:28 Tinggalkan komentar

Bookmark and Share

MERAIH BEKAL MENUJU KEHIDUPAN YANG KEKAL

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat
maka Kami tambahkan keuntungan itu baginya.”  (QS. asy-Syuro: 20)

Disadari ataupun tidak, kehidupan kita di dunia ini merupakan perjalanan menuju kepada Allah ‘azza wa jalla, yang kelak di hadapan Allah kita akan mempertanggungjawabkan atas seluruh yang kita kerjakan di dunia ini. Kehidupan di dunia ini adalah kehidupan sementara. Tidaklah ada kenikmatan dan kesenangan di dalamnya, melainkan keduanya bersifat sementara dan memperdayakan. Allah ‘azza wa jalla menjelaskan, “Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (palsu).” (QS. al-Hadid: 20)

Dan sebaliknya kehidupan di akhirat kelak adalah kehidupan yang sesungguhnya dan kekal abadi. Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla menerangkan, “Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 17)

Pada kehidupan akhirat terdapat azab dan ampunan dari Allah ‘azza wa jalla serta keridhaan-Nya. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.” (QS. al-Hadid: 20)

Pembaca yang budiman -semoga senantiasa dirahmati oleh Allah-, kehidupan kita di dunia ini adalah nikmat kesempatan dari Allah subhanahu wa ta’ala bagi kita untuk menyiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan hamba-hamba-Nya agar senantiasa menyiapkan bekal, sebagaimana Allah ta’ala berfirman: “Dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (Akhirat).” (QS. al-Hasyr: 18)

Lalu apakah bekal tersebut? Apakah bekal tersebut adalah harta yang dikumpulkan dan dihitung-hitung di dunia ini? Ataukah teman setia yang selalu menemani kita? Ataukah rumah mewah yang tak lelah menaungi kita? Sungguh, “tidak” jawabannya. Berikut kami hadirkan kepada pembaca sekalian hakikat dari bekal tersebut, kiat-kiat meraihnya dan balasan bagi orang-orang yang berbekal dengan bekal tersebut.

HAKIKAT BEKAL MENUJU KEHIDUPAN YANG KEKAL

Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bekal yang Allah dan Rasul-Nya tunjukkan kepada kita adalah sebagaimana terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (QS. al-Baqarah: 197)

Sungguh tak lagi asing bagi kita bahwasanya hakikat dari takwa tersebut adalah kita menjalankan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan mengikhlaskan niat hanya kepada-Nya serta di atas petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

KIAT-KIAT MERAIH BEKAL MENUJU KEHIDUPAN YANG KEKAL

Menuntut Ilmu Agama

Menuntut ilmu agama merupakan kiat terpenting bagi seorang muslim dalam menyiapkan bekal menuju kehidupan kekal. Jika kita mengamati, betapa banyak saudara-saudara kita yang menguasai berbagai cabang ilmu dunia, namun sangat disayangkan, ia lalai akan ilmu agama. Lalu bagaimana mereka dapat beribadah dengan benar tanpa ilmu syar’i? Bagaimana pula mereka dapat mentauhidkan Allah dengan benar? Dan bagaimana mereka menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal tanpa ilmu syar’i?

Pembaca yang budiman, ketahuilah, bahwasanya dengan ilmu syar’i tersebutlah seorang hamba mendapat petunjuk untuk menjalankan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan menjauhi larangan- larangan-Nya. Sebagaimana Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah membawakan Firman Allah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang-orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. az-Zumar: 9), lalu beliau rahimahullah berkata, “Tidaklah sama orang yang berilmu dengan orang tidak berilmu, sebagaimana tidak sama orang yang masih hidup dan orang yang telah mati, dan antara orang yang dapat mendengar dan orang yang tuli, ilmu adalah cahaya yang dengannya seorang hamba mendapatkan petunjuk dan dengannya pula ia keluar dari kegelapan menuju terangnya cahaya.” (Kitab al-‘Ilmi, hal. 13)

Merasa Diawasi Allah

Sungguh, tidak ada yang sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah subhanahu wa ta’ala dari semua yang tersimpan di dalam hati, terucap dengan lisan dan apa saja yang diperbuat oleh anggota badan. Allah menerangkan, “(Allah) mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang engkau rahasiakan dan apa yang engkau nyatakan. Dan Allah Maha mengetahui segala isi hati.” (QS. at-Taghaabun: 4)

Ketika seorang hamba merasa senantiasa diawasi oleh Allah, ia akan berhati-hati di dalam berkata, berbuat dan menyisipkan sesuatu dalam hatinya. Syaikh Abdulazhim bin Badawi hafizhahullah bertutur, “Sesungguhnya muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah ta’ala) membantu seorang hamba untuk berpegang teguh dengan segala yang diwajibkan Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.” (‘Ilmu ad-Din, hal. 99)

Introspeksi Diri

Tidak ada seorangpun di antara hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa, maka dari itu introspeksi diri adalah sikap yang paling bijak yang harus dilakukan seorang hamba.

Allah ta’ala berfirman, “Dan hendaknya setiap insan memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (Akhirat).” (QS. al-Hasyr: 18)

Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari rahimahullah menafsirkan ayat tersebut, “Hendaknya setiap orang di antara kalian, menyiapkan amalan apa saja untuk menghadapi hari akhir, apakah amal-amal shalih (yang telah ia siapkan) yang akan menyelamatkannya atau amalan-amalan keburukan yang akan membinasakannya?” (Jami’ al-Bayan ‘an Ta`wil Ayat al-Qur’an, hal. 27 Jilid 14)

Dengan introspeksi diri seorang hamba dapat menyadari, betapa banyak dosa dan kesalahan yang menghiasi dirinya. Kesadaran inilah yang menjadi salah satu sebab Allah ta’ala memberikan hidayah kepadanya untuk menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan.

Memilih Teman yang Baik

Berteman dengan orang yang baik sangat membantu seorang hamba dalam menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal. Mengapa demikian? Karena yang orang baik adalah teman yang senantiasa berusaha menjalankan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berusaha menjauhi larangan-larangan-Nya.

Teman dengan kriteria yang demikian akan memberikan motivasi dan pengaruh yang besar bagi siapapun yang dekat dengannya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sungguh benar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau dapat membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapat bau harum darinya. Sedangkan seorang pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. al-Bukhari no.5534 dan no. 2101 dariBookmark and Share sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu).

Lalu sudahkah kita memilih teman yang baik?

Berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla

Berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla merupakan upaya sangat penting bagi seorang muslim untuk menyiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Karena dengan berdoa, Allah ‘azza wa jalla akan memudahkannya dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya dan dalam menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan sebuah lafadz doa yang cukup mencakup sebagaimana dalam firman Allah ‘azza wa jalla:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan:74)

BALASAN BAGI MEREKA YANG MENYIAPKAN BEKAL

Ketika seorang muslim berbuat kebaikan dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada balasan yang layak baginya melainkan kebaikan pula. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman: “Tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan (pula).” (QS. ar-Rahman: 60)

Lalu balasan apakah yang layak bagi seorang muslim yang menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal? Berikut sekelumit dari sekian banyak balasan-balasan yang Allah janjikan.

Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan segala urusannya di dunia dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rezeki yang tidak disangka-sangka.” (QS. at-Thalaq: 2-3)

Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya mulia di sisi-Nya.

Allah ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisim Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat: 13)

Allah ta’ala akan menyelamatkannya dari api neraka.

Firman-Nya, “Kemudian kami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS. Maryam: 72)

Allah menyediakan surga yang penuh kenikmatan baginya.

Allah ta’ala berfirman, “Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. al-Hadid: 21)

Allah ta’ala juga berfirman, “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. al-Baqarah: 25)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan.” (QS. ath-Thur: 17)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita semua termasuk dari hamba-hamba-Nya yang menyiapkan dan meraih bekal untuk kehidupan yang kekal, hingga Ia memperkenankan kita memasuki surga-Nya yang penuh kenikmatan. Amin.

| Oleh: Abu Abdillah Irsan al-Atsary |

Iklan

Entry filed under: Al-Islam, Nashihat.

Virus Valentine’s Day Kabut yang Seolah Mewarnai Bulan Rajab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Mei 2012
S S R K J S M
« Feb   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tulisan Terakhir

Arsipku

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Statistik Pengunjung

  • 1,763 Pengunjung

%d blogger menyukai ini: