Tinggalkan yang Meragukan

Tinggalkan yang Meragukan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Dari Abu Huroiroh berkata : Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu dia kesulitan menetukan apakah sudah keluar sesuatu (kentut) ataukah belum, maka jangan membatalkan sholatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.”

(HR. Muslim : 541)

            Bukan hal yang mustahil bagi seorang muslim yang telah berwudhu, kemudian hendak shalat, ataupun yang sedang shalat akan merasakan sesuatu pada perutnya, bisa jadi karena perut yang terlalu kenyang, ataupun sebaliknya yang terlalu lapar. Iapun seakan merasakan ada sesuatu (angin) yang keluar melalui duburnya, ia ragu apakah benar-benar keluar atau tidak. Dalam keadaan seperti ini, (lebih…)

Iklan

1 Agustus 2013 at 08:58 Tinggalkan komentar

KEUTAMAAN SHADAQAH

Bookmark and Share

Dahsyatnya Shadaqah di bulan Ramadhan

Kedatangan bulan Ramadhan setiap tahunnya tak henti menjadi penghibur hati orang mukmin. Bagaimana tidak, beribu keutamaan ditawarkan di bulan ini. Pahala diobral, ampunan Allah bertebaran memenuhi setiap ruang dan waktu. Seorang yang menyadari kurangnya bekal yang dimiliki untuk menghadapi hari penghitungan kelak, tak ada rasa kecuali sumringah menyambut Ramadhan. Insan yang menyadari betapa dosa melumuri dirinya, tidak ada rasa kecuali bahagia akan kedatangan bulan Ramadhan.
Mukmin Sejati Itu Dermawan

Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar dari bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Islam sering menganjurkan umatnya untuk banyak bersedekah. Dan bulan Ramadhan, amalan ini menjadi lebih dianjurkan lagi. Dan demikianlah sepatutnya akhlak seorang mukmin, yaitu dermawan. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan bahkan memberi contoh kepada umat Islam untuk menjadi orang yang dermawan serta pemurah. Ketahuilah bahwa kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, sebagaimana hadits:

‏إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744)

Dari hadits ini demikian (lebih…)

28 Juli 2012 at 10:09 Tinggalkan komentar

Pengertian Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

PENGERTIAN ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Bookmark and Share

A. Definisi ‘Aqidah
‘Aqidah (اَلْعَقِيْدَةُ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu(التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.[1]

Sedangkan menurut istilah (terminologi): ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

Jadi, ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid[2] dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih. [3]

B. Objek Kajian Ilmu ‘Aqidah[4]
‘Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu -sesuai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah- meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, masalah ghaibiyyaat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yang qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka.

Disiplin ilmu ‘aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya.

• Penamaan ‘Aqidah menurut Ahlus Sunnah:
Di antara nama-nama ‘aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:

1. Al-Iman
‘Aqidah disebut juga dengan al-Iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena (lebih…)

28 Juni 2012 at 10:35 Tinggalkan komentar

DEFINISI AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DAN SEJARAH MUNCULNYA AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

PENGERTIAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Bookmark and Share

D. Definisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah:
Mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum.

As-Sunnah menurut bahasa (etimologi) adalah jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk.[1]

Sedangkan menurut ulama ‘aqidah (terminologi), As-Sunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah As-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela.[2]

Pengertian As-Sunnah menurut Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (wafat 795 H): “As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh kepada apa yang dilaksanakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa i’tiqad (keyakinan), perkataan dan perbuatan. Itulah As-Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi Salaf terdahulu tidak menamakan As-Sunnah kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H), Imam al-Auza’i (wafat th. 157 H) dan Imam Fudhail bin ‘Iyadh (wafat th. 187 H).”[3]

Disebut al-Jama’ah, karena mereka bersatu di atas kebenaran, tidak mau berpecah-belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kepemimpinan para Imam (yang berpegang kepada) al-haqq (kebenaran), tidak mau keluar dari jama’ah mereka dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful Ummah. [4]

Jama’ah menurut ulama ‘aqidah (terminologi) adalah generasi pertama dari ummat ini, yaitu kalangan Sahabat, Tabi’ut Tabi’in serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari Kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran. [5]

Imam Abu Syammah asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 665 H) berkata: “Perintah untuk berpegang kepada jama’ah, maksudnya adalah berpegang kepada kebenaran dan mengikutinya. Meskipun yang melaksanakan Sunnah itu sedikit dan yang menyalahinya banyak. Karena kebenaran itu apa yang dilaksanakan oleh jama’ah yang pertama, yaitu yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya tanpa melihat kepada orang-orang yang menyimpang (melakukan kebathilan) sesudah mereka.”

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu:[6]

اَلْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ.

“Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian.” [7]

Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah (lebih…)

28 Juni 2012 at 10:24 Tinggalkan komentar

Kabut yang Seolah Mewarnai Bulan Rajab

FATWA-Fatwa Ulama Seputar Amalan-amalan Bulan Rajab (Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin dll)

Bookmark and Share

Bukan Termasuk Petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam 

Mengkhususkan Ritual Ibadah Tertentu di Bulan Rajab

1. Pertanyaan pertama dari fatwa Lajnah Daimah no. 2608 :

Di sana ada hari-hari tertentu (khusus) di bulan Rajab yang ditunaikan padanya puasa sunnah, apakah hari-hari tersebut jatuh pada awal bulan, pertengahan, ataukah di akhirnya?

Jawab:

Tidak ada hadits-hadits khusus yang tetap (shahih) tentang keutamaan puasa pada bulan Rajab selain hadits yang diriwayatkan An-Nasa’i dan Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari shahabat Usamah, bahwa dia berkata:

“Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan tertentu sebagaimana puasa engkau pada bulan Sya’ban.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ذلك شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Itu adalah bulan yang orang-orang lalai darinya, bulan yang terletak antara Rajab dan Ramadhan, dan itu adalah bulan yang mana seluruh amalan diangkat ke hadapan Rabbul ‘Alamin, maka aku senang jika amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.”  [HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Abi Syaibah, Abu Ya’la, Ibnu Zanjuyah, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Barudi, Sa’id bin Manshur]

Hadits-hadits yang ada menunjukkan keumuman tentang dorongan untuk berpuasa tiga hari di setiap bulan, dan dorongan untuk berpuasa pada hari-hari Bidh di setiap bulan, yaitu tanggal 13, 14, dan 15, dorongan untuk berpuasa pada bulan-bulan haram, puasa pada hari Senin dan Kamis. Dan bulan Rajab masuk ke dalam keumuman dari itu semua.

Jika engkau bersemangat untuk memilih hari-hari tertentu pada setiap bulannya, maka pilihlah hari-hari Bidh yang tiga tersebut, atau hari Senin dan Kamis, kalau tidak maka (lebih…)

30 Mei 2012 at 19:45 Tinggalkan komentar

MERAIH BEKAL MENUJU KEHIDUPAN YANG KEKAL

Bookmark and Share

MERAIH BEKAL MENUJU KEHIDUPAN YANG KEKAL

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat
maka Kami tambahkan keuntungan itu baginya.”  (QS. asy-Syuro: 20)

Disadari ataupun tidak, kehidupan kita di dunia ini merupakan perjalanan menuju kepada Allah ‘azza wa jalla, yang kelak di hadapan Allah kita akan mempertanggungjawabkan atas seluruh yang kita kerjakan di dunia ini. Kehidupan di dunia ini adalah kehidupan sementara. Tidaklah ada kenikmatan dan kesenangan di dalamnya, melainkan keduanya bersifat sementara dan memperdayakan. Allah ‘azza wa jalla menjelaskan, “Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (palsu).” (QS. al-Hadid: 20)

Dan sebaliknya kehidupan di akhirat kelak adalah kehidupan yang sesungguhnya dan kekal abadi. Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla menerangkan, “Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 17)

Pada kehidupan akhirat terdapat azab dan ampunan dari Allah ‘azza wa jalla serta keridhaan-Nya. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.” (QS. al-Hadid: 20)

Pembaca yang budiman -semoga senantiasa dirahmati oleh Allah-, kehidupan kita di dunia ini adalah nikmat kesempatan dari Allah subhanahu wa ta’ala bagi kita untuk menyiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan hamba-hamba-Nya agar senantiasa menyiapkan bekal, sebagaimana Allah ta’ala berfirman: “Dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (Akhirat).” (QS. al-Hasyr: 18)

Lalu apakah bekal tersebut? Apakah bekal tersebut adalah harta yang dikumpulkan dan dihitung-hitung di dunia ini? Ataukah teman setia yang selalu menemani kita? Ataukah rumah mewah yang tak lelah menaungi kita? (lebih…)

17 Mei 2012 at 09:28 Tinggalkan komentar

Virus Valentine’s Day

Bookmark and Share

Virus Valentine’s Day

Mendekati tanggal 14 Februari, kita selalu menyaksikan media massa, mal-mal, dan pusat-pusat hiburan bersibuk-ria dan berlomba-lomba untuk menarik perhatian para remaja dalam menyemarakkan valentine’s day, yang disebut-sebut sebagai hari kasih sayang. Dan yang cukup memiriskan hati, tidak sedikit para remaja muslim pun turut menyemarakkannya .

Ketahuilah wahai saudara dan saudariku, hendaknya kita menyadari bahwasannya kasih sayang yang haqiqi itu adalah datangnya dari Allah ‘Azza wa Jalla, segala kebahagiaan dan kenikmatan adalah  adalah bersumer dari-Nya, maka untuk meraihnya tidak lain dan tidak bukan adalah dengan menempuh jalan yang diridhoiNya. Lalu bagaimana dengan “valentine’s day” ? Apakah ia jalan yang diridhai Allah ? Ataukah ia perangkap syaithan yang penuh dengan kerusakan? Semoga seikat nashihat  yang kami sampaikan dalam kesempatan kali ini kali ini dapat menjawabnya. (lebih…)

17 Mei 2012 at 08:51 Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Oktober 2017
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Tulisan Terakhir

Arsipku

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

Statistik Pengunjung

  • 1,750 Pengunjung